Reaksi Eksoterm

Posted on

Reaksi Eksoterm – Panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran dipindahkan dari sistem ke lingkungannya. Dengan kata lain, suatu reaksi yang menghasilkan panas. Misalnya, reaksi terbakar dalam api adalah reaksi eksotermik yang meningkatkan energi di sekitarnya.

Reaksi kimia adalah adanya sebuah proses alami yang selalu menghasilkan interaksi senyawa kimia atau senyawa awal yang ada dalam reaksi yang disebut reaktan. Secara umum, reaksi kimia biasanya diidentifikasi oleh perubahan kimia dan menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki sifat yang berbeda dari reaktan.

Apa yang di maksud dengan Reaksi Eksoterm ?

Pengertian Reaksi Eksoterm adalah reaksi kimia dengan sistem pelepasan panas. Dalam adanya sebuah reaksi eksotermik, suhu campuran reaksi meningkat dan energi potensial pelepasan bahan kimia yakni dapat meningkat, hingga sistem melepaskan panas ke lingkungan.

Reaksi eksotermik akan terjadi dengan cara alami dan beberapa artifisial. Reaksi eksotermis alami adalah reaksi alami yang terjadi secara spontan karena pelepasan energi. Misalnya besi berkarat, air mendidih, kembang api, ledakan bom, dan pembakaran kayu.

Reaksi-Eksoterm

Reaksi eksotermis tiruan adalah reaksi eksotermis dari percobaan laboratorium. Contohnya, reaksi natrium air terhadap peroksida, reaksi HCL dan bubuk Zn, mencampur asam pekat terhadap air, menambahkan air ke tembaga sulfat anhidrat dan reaksi besi (III) oksida dengan reaksi termit (logam aluminium).

Ciri-Ciri Reaksi Eksoterm

Adapun berbagai ciri-ciri dalam reaksi ini, diantaranya ialah sebagai berikut:

  • Sistem dalam melepaskan sebuah energi yang biasanya ditandai dengan kenaikan api, suhu, yang terlihat, atau panas ketika panas menghentikan reaksi.
  • Entalpi dalam sebuah produk tersebut yakni lebih kecil dari entalpi reaksi.
  • entalpi perubahan = Hp – Hr <0 atau negatif.
Baca Juga :  Pengertian Isomer

Perbedaan Reaksi Eksoterm dan Reaksi Endoterm

Reaksi Endoterm

  • Membutuhkan kehangatan
  • Sistem entalpi meningkat
  • Suhu dalam suatu sistem lebih rendah dari suhu sekitar
  • Panas yang masuk ke sistem dari lingkungan
  • Mengalami sebuah penurunan terhadap suhu

Reaksi Eksoterm

  • Panas membeku
  • Suhu terhadap sistem lebih tinggi dari suhu sekitar
  • Panas yang masuk ke lingkungan dari sebuah sistem
  • Sistem entalpi yakni telah berkurang
  • Alami dengan kenaikan suhu

Teori-Teori Reaksi Eksoterm

Reaksi kimia seperti membakar, memfermentasi dan mengurangi butiran menjadi logam telah dikenal sejak zaman kuno. Teori awal transformasi material yakni telah dikembangkan yang bernama para filsuf Yunani kuno.

Misalnya dalam sebuah teori empat elemen Empedocles, yang menyatakan bahwa setiap material memiliki empat elemen dasar yakni api, udara, air, dan bumi. Pada Abad Pertengahan, transformasi kimia dipelajari dengan alkemis. Contohnya, ia mencoba mengubah timbal menjadi emas dengan mereaksikan timbal dengan campuran tembaga dan belerang.

Para ilmuwan telah berusaha untuk menghasilkan senyawa kimia non-bumi, seperti sintesis asam sulfat dan asam nitrat oleh ahli alkimia Jābir ibn Hayyān. Proses tersebut yakni akan dilakukan dengan memanaskan dalam sebuah mineral sulfur dan nitrat misalnya tawas, tembaga sulfat, dan kalium nitrat. Dalam suatu abad ke-17, Johann Rudolph Glauber menghasilkan asam klorida dan natrium sulfat dengan mereaksikan asam sulfat dengan natrium klorida.

Dengan pengembangan sebuah proses ruang timbal pada tahun 1746 dan proses Leblanc, yang menghasilkan sejumlah besar asam sulfat dan natrium karbonat, reaksi kimia dimungkinkan dalam industri. Teknologi asam sulfat canggih akhirnya memperkenalkan proses kontak pada tahun 1880-an, dan proses Haber dikembangkan pada 1909 hingga 1910 sebagai sintesis amonia.

Di bidang kimia organik, diyakini bahwa senyawa yang ditemukan dalam organisme hidup juga sangat sulit diperoleh melalui sintesis kimia. Menurut konsep vitalisme, senyawa organik diberkahi dengan “keterampilan penting” yang “berbeda” dari bahan anorganik.

Baca Juga :  Hukum Kekekalan Massa

Namun pada akhirnya, konsep ini berhasil setelah sintesis urea oleh Friedrich Wöhler pada tahun 1828. Kimiawan lain yang telah berkontribusi dalam kimia organik adalah Alexander William Williamson dengan sintesis eter dan Christopher Kelk Ingold, yang menemukan telah menentukan dalam suatu mekanisme reaksi Subs.

Baca Juga :

Demikianlah pembahasan yang telah kami sampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Reaksi Eksoterm. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semuanya.