Perang Padri

Posted on

Perang Padri – Dalam salah satu sebuah peristiwa besar yakni menjadi suatu sejarah di wilayah Indonesia. Perang ini adalah sebuah perang yang telah terjadi di wilayah provinsi Sumatera Barat dan sekitarnya.

Perang, yang berubah menjadi upaya yakni telah melawan penjajah, adalah bentuk ketidakpuasan terhadap orang-orang Padri karena Belanda yang terlalu banyak ikut campur tangan dengan urusan kalangan masyarakat.

Bagaimana sejarah dalam perang ini? Dalam ulasan kali ini kami akan membahas mengenai perang padri dan akan dijelaskan secara singkat dan mudah untuk dipahami. Yuukk… Simak ulasan ini sebagai berikut.

Bagaimana Sejarah Perang Padri ?

Sejarah Perang Padri tidak begitu jauh berbeda dari sejarah perang dalam saudara yang sering terjadi pada sebelum kemerdekaan wilayah Indonesia. Perang saudara ini dihadiri dengan penduduk di Sumatra Barat, yang awalnya hidup dalam harmoni, kedamaian dan kemakmuran.

Yang mendasari perang ialah telah munculnya ketidaksepakatan antara kelompok-kelompok dengan ahli agama Islam yang disebut dengan Padri dan pada kalangan masyarakat pada adat yang bermukim di sekitar Puy Ruyung. Padri telah berpendapat bahwa praktik adat telah melanggar hukum Islam.

Terjadinya-Perang-Padri

Kebiasaan Aborigin, yang begitu bertentangan dengan hukum Islam, termasuk judi, sabung ayam, konsumsi minuman beralkohol, penggunaan obat-obatan terlarang, distribusi materi genetik menurut hukum yang tidak adil, danlain sebagainya.

Sementara sebelumnya adat mengatakan bahwa mereka telah menerima agama Islam dan telah berjanji sebagai menghentikan kebiasaan hal buruk tersebut. Namun, janji Adat tidak dapat dihormati dan sebaliknya mereka malah semakin menyebar luas untuk melawan.

Baca Juga :  Sejarah Pithecanthropus Mojokertensis

Perilaku penduduk asli, yang menentang hukum Islam, membuat marah Padri. Di ambang kesabaran, perang saudara pecah pada 1803. Warga sipil Mandai Ling dan Minang ambil bagian dalam perang saudara. Pemimpin Padri merupakan harimau Nan Salapan.

Sedangkan adat dipimpin dengan Sultan Arifin Muningsyah. Perang itu berat dan saling menjatuhkan. Sekitar tahun 1833, perang, yang awalnya merupakan perang saudara, menjadi perang yakni melawan suatu penjajah.

Perang-Padri

Strategi – Strategi yang Digunakan Kaum Adat, Kaum Padri dan Belanda

1. Strategi Belanda

Belanda, sebagai pihak yang diundang dan terlibat dalam perang, mengejar strategi yang berbeda. Belanda bernegosiasi dengan Padri sebagai urgensi mereka. Karena pada Belanda menghadapi masalah yang agak serius, karena pada saat yang sama di Jawa pecah Perang Diponegoro.

Dalam negosiasi, Belanda mengundang Padri ke gencatan senjata. Padri, yang diwakili dengan Tuanku Imam Bonjol, akhirnya menyetujui sebuah perjanjian gencatan senjata. Selama gencatan senjata, kubu Padri telah mulai untuk bekerja.

Tuanku Imam Bonjol telah memulihkan pasukan Padri dan berhasil memeluk penduduk asli lagi. Pada akhirnya, dalam persatuan ini telah menghasilkan konsensus sebagai mencoba menerapkan hukum Islam berdasarkan Alquran di tanah Minangkabau.

Mereka menyerang beberapa poin penting yang membentuk jantung pertahanan Padri. Karena serangan itu, Padri akhirnya kewalahan dan mundur ke daerah Bonjol.

2. Strategi kaum Adat

Perang yang menyala membutuhkan sebuah strategi yang tepat karena benteng telah memainkan peran yang sama. Berbeda dengan Padri, Adat telah menggunakan dengan berbagai strategi untuk mengalahkan terhadap kaum Padri. Salah satu strategi yang digunakan adalah untuk meminta bantuan terhadap para Belanda.

Penduduk asli mulai menyadari bahwa pada sebuah kekuatan Padri sangat begitu sulit dikalahkan. Padri, yang telah menggunakan semangat agama dalam sebuah peperangan, mempunyai sebuah kekuatan yang berlipat ganda, dan pada akhirnya telah menyebabkan ketidaknyamanan bagi para kalangan masyarakat adat.

Baca Juga :  Biografi KH Idham Cholid

Karena mereka kewalahan dalam perang melawan Padri, penduduk asli meminta bantuan Belanda. Pemimpin adat saat itu, ialah yang bernama Sultan Tangkal Alam, dalam bernegosiasi dengan Belanda. Bahkan, dia tidak diizinkan menggunakan nama Pagar Kerajaan Ruyung karena itu tidak sultan yang sah.

3. Strategi Kaum Padri

Kekalahan Padri oleh Belanda membuat Padri mengatur kembali strategi mereka dan mengevaluasi perjuangan yang mereka lakukan. Dalam hal ini, pada Padri mundur ke wilayang Lintau sebagai mengatur ulang dalam strategi.

Pertarungan begitu berlanjut dan Padri telah berhasil menerapkan strategi yang lebih baik. Mereka mengusir serangan ke Luhak Agam dan Tanjung Alam. Kemudian Padri berhasil di Baso, kapten Belanda sangat begitu terluka bahkan sampai wafat. Di bawah kepemimpinan Tuanku Nan Renceh, Padri berhasil mendorong Belanda kembali ke Batu Sangkar.

Kombinasi penduduk lokal dan Belanda mulai meningkat. Pada April 1823, Belanda meningkatkan kekuatan para prajurit. Belanda menyerang lagi Lintau, yang sebelumnya gagal, tetapi Padri dengan strategi gerilya tidak mudah dikalahkan. Belanda akhirnya dipaksa untuk kembali ke Batu Sangkar.

Perang ini, yang berubah menjadi upaya dalam melawan penjajah, adalah sebuah bentuk dalam ketidakpuasan terhadap kaum Padri karena Belanda terlalu banyak campur tangan dalam urusan masyarakat.

Baca Juga :

Demikian pembahasan kali ini yang telah kami rangkum dan dijelaskan secara singkat dan mudah untuk dipahami mengenai Perang Padri. Semoga ulasan ini, dapat berguna bagi Anda.